Google
 

Monday, September 15, 2008

Grand Opening Toko Alfamart


Setelah sekian lama tarik ulur antara jadi dan tidak, akhirnya pada hari ini, Sabtu, 13 September 2008, toko Alfamart milik saya telah mulai dibuka dan melakukan Grand Opening.
Terletak di jalan Parakan, atau lebih dikenal dengan jalan Pamulang 2, Pondok Benda, Pamulang, toko ini menempati 2 buah ruko tingkat dengan bangunan seluas 200 m2 (lantai bawah).
Luas area untuk display barang dagangan adalah sekitar 120 m2, dibagian belakang dipergunakan sebagai gudang, kantor, mess karyawan, kamar mandi, dapur dll.

Lantai atas dari ruko tidak dipakai sebagai bagian dari toko akan tetapi merupakan bagian terpisah yang tidak ada hubungannya dengan toko Alfamart. Akses untuk masuk ke lantai atas adalah dengan melalui tangga tersendiri yang dibangun dipinggir depan toko.
Luas ruko lantai atas masing-masing adalah 5 x 15 m. Direncanakan lantai atas ini akan dikontrakkan dengan prioritas penggunaanya sebagai kantor atau tempat kursus.

Luas area parkir didepan toko cukup luas untuk ukuran toko Alfamart, yaitu sekitar 130 m2, saat ini teras bagian samping depan toko masih kosong, belum dimanfaatkan untuk pedagang penunjang seperti yang biasa terlihat di toko alfamart, masih terbuka bagi peminat yang ingin menyewanya.

Semoga toko ini bisa berjalan dengan lancar dan barokah sesuai harapan.

Sunday, March 2, 2008

Tiba Di Jakarta Setelah 6 Tahun di Nigeria

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 24 jam dari Lagos Nigeria akhirnya pada hari Sabtu malam tanggal 1 Maret 2008 jam 20:30 pesawat Emirates Airline EK-344 mendarat dengan mulus di bandara Soekarno Hatta.
Perjalanan kali ini sungguh lain dari biasanya, selain merupakan perjalanan terakhir dari Nigeria, juga merupakan titik awal untuk memulai kehidupan baru sebagai orang yang full TDA.

Kepulangan ke Jakarta kali ini juga ditandai oleh hal-hal istimewa yang lain dari biasanya.
Beberapa hari sebelum berangkat, di Bonny Island tempat bermukim saya di Nigeria sedang "diserang" oleh cuaca buruk berupa "harmattan" (kabut dari pasir halus) yang tidak memungkinkan adanya penerbangan, tiba-tiba hanya dua hari menjelang keberangkatan kabut tersebut lenyap sehingga saya bisa berangkat sesuai jadwal!

Setiba di Soekarno Hatta semua proses untuk keluar dari bandara berjalan sangat lancar, mulai dari antrian di loket imigrasi yang biasanya memakan waktu tidak kurang dari setengan jam ternyata hanya berlangsung tidak sampai belasan menit!
Begitu juga proses terlama yang selama ini selalu terjadi yaitu menunggu keluarnya koper, biasanya bisa satu jam atau lebih tapi kali ini tidak sampai 15 menit koper sudah keluar!

Semoga pengalaman-pengalaman positif ini merupakan pertanda baik atas niat saya resign dan akan memulai hidup baru sebagai seorang wirausaha.

Yang tak kalah istimewa kali ini adalah adanya "penyambutan" yang luar biasa di bandara Cengkareng!
Selain keluarga tercinta, juga turut menjemput sedulur-sedulur TDA Joglo yang selama ini hanya kenal dan berkomunikasi melalui internet yaitu Mas Bambang Triwoko, Mas Harmanto, Mas Anto, Mas Bayu dan Mas Thomas Genthong, luar biasa, bahkan Mas Bams dan Mas Thomas sengaja datang dari Jogya khusus untuk acara penjemputan ini!
Rasanya hilang sudah semua rasa capek setelah menempuh perjalanan lebih dari 10 ribu mil!

Dengan kedatanganku ke Jakarta maka menjadi lengkaplah anggota BAHARA Corporation!
Rasanya seperti mimpi ketemu langsung dengan Mas Harmanto dan Mas Bams, langsung akrab seakan-akan sudah kenal bertahun-tahun sebelumnya!
Rasanya masih pengen ngobrol panjang lebar dengan poro sedulur di bandara tetapi waktu telah semakin larut malam sehingga pertemuan yang cukup seru dan hangat hanya bisa berlangsung belasan menit saja.

Matur nuwun sedulur-sedulur semua atas sambutan yang begitu hangat, semoga segala kebaikan anda semua mendapatkan balasan yang setimpal.

Thursday, February 28, 2008

Hari Terakhir di Bonny Island, Nigeria

Insya Allah hari ini adalah hari terakhir aku tinggal di Bonny Island, tapi masih ngantor setengah hari karena pesawat yang ke Lagos baru berangkat nanti jam 3-4 sore.
Daripada bengong di camp, mending datang kekantor sekalian pamit sama temen-temen.
Nggak berasa sampai hari ini aku tinggal di Nigeria selama 5 tahun 9 bulan! Padahal dulu, pada waktu pertama kali datang ke Nigeria rasanya paling banter hanya bisa bertahan satu tahun, tapi kenyataannya malah hampir 6 tahun, luar biasa.

Dua hari yang lalu aku udah serah terima pekerjaan kepada Deputy Project Manager yaitu Mr. Tetsuji Yanase, dan keliatannya untuk sementara dia yang akan menghanle sampai ditentukan siapa nanti penggantiku.
Alhamdulillah semua pekerjaan sudah beres, tidak ada sesuatu yang kurang sehingga aku bisa berangkat tanpa beban.

Malam nanti aku menginap satu malam di Lagos dan besok sore melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan menumpang pesawat Emirates Airline via Dubai.
Semoga perjalanan lancar, tiba di Jakarta dengan selamat, berkumpul kembali bersama keluarga dan memulai babak baru dalam kehidupanku yaitu menjadi seorang wirausaha atau full TDA.

Wednesday, February 27, 2008

Kapolda Jabar : Jangan Beri Saya Setoran!

Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H.,M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB. Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan "menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah
ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.

Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang 'kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK.
Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.
Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran.. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu. Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi.

Bentuknya macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.
Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya.

Memberantasnya bagaimana?

Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu. Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan? Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam.

Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran. Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.
Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?

Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.

Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan. Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.

Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus korupsi?
Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar. Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa?
Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk. Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan. Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.

Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha. Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan kepolisian? Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara rakyat macet. Itu juga korupsi. Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan pelacur. ***

Monday, February 25, 2008

Alhamdulillah Cuaca Semakin Membaik!

Setelah secara tiba-tiba selama 4 hari Bonny Island diterpa kabut "harmattan" akhirnya sejak kemarin cuaca telah mulai bersahabat, bahkan kemarin sore pesawat proyek yang terpaksa parkir selama 4 hari mulai lagi penerbangan rutinnya baik ke Port Harcourt maupun ke Lagos.
Alhamdulillah hari ini cuaca semakin membaik, kabut harmattan yang sebelumnya nyaris menggelapkan udara semakin menipis, penumpang expat yang menumpuk akibat lumpuhnya penerbangan secara berangsur mulai diterbangkan keluar pulau Bonny!

Melihat perkembangan ini maka kekhawatiran tertundanya kepulangan saya ke Indonesia mulai berkurang, jauh berkurang, mudah-mudahan kalo tidak ada halangan lain saya akan berangkat dari Bonny Island pada hari Kamis 28 Februari 2008.

Inilah jadwal kepulangan saya :
28 Feb-08 Bonny/Lagos 16:00/18:00 (pake pesawat proyek)
Nginap semalam di Lagos.

29 Feb-08 Emirates EK784 Lagos/Dubai 16:40/02:40 +1
01 Mar-08 Emirates EK344 Dubai/Jakarta 09:10/20:30

Semoga besok cuaca semakin membaik sehingga tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

Friday, February 22, 2008

Cuaca Buruk di Bonny Island

Di Nigeria sebenarnya hanya ada dua musim seperti halnya di Indonesia yaitu musim panas dan musim hujan karena memang letak geografisnya yang hampir sama yaitu di lintasan garis katulistiwa, hanya saja letak Nigeria berada sedikit diselatan garis katulistiwa.

Dulu sebelum menginjakkan kaki ke Nigeria saya pikir negara ini gersang, kering, berpasir luas dan suhu yang panas seperti halnya negera-negara Afrika seperti yang terlihat di tv-tv, ternyata dugaan itu salah karena alam di Nigeria boleh dikatakan nyaris sama dengan Indonesia khususnya dengan wilayah Sumatera bagian selatan, banyak pepohonan dan juga kebun-kebun liar.

Tetapi ada "musim khusus" di Nigeria yang tidak terdapat di Indonesia, orang sini menyebutnya "harmattan" yaitu datangnya semacam awan atau kabut putih kekuning-kuningan yang menyelimuti udara sepanjang hari dan membawa hawa dingin.
Ternyata apa yang kelihatan seperti kabut ini sebetulnya berupa partikel-partikel halus (debu) yang dihembuskan dari wilayah selatan Nigeria atau tepatnya dari Gurun Sahara.
Harmattan ini biasanya terjadi pada bulan Desember atau Januari dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan.

Saat ini disini sedang musim harmattan dan hari ini adalah hari ketiga yang terparah, artinya kabut harmattan yang menyelimuti udara sangat pekat sehingga membuat jarak pandang menjadi terganggu, daun-daunan menjadi berwarna putih, begitu juga atap-atap bangunan, kalo di Indonesia seperti pada waktu terjadi hujan debu.

Akibat langsung dari harmattan ini adalah timbulnya berbagai gangguan kesehatan seperti batuk, iritasi mata, sesak nafas, bahkan juga demam. Maka apabila musim harmattan tiba para pekerja proyek diwajibkan mengenakan masker penutup hidung.

Akibat lain dari harmattan adalah terganggunya dunia penerbangan, inilah yang saat ini menjadi kekhawatiran karena rencananya minggu depan saya harus pergi ke bandara internasional Lagos untuk seterusnya menuju Jakarta.
Sudah tiga hari ini pesawat proyek yang biasanya melayani para expat untuk pergi ke Lagos dibatalkan sehingga banyak calon penumpang yang terpaksa ditunda keberangkatannya sampai waktu yang belum bisa ditentukan!

Waktu saya tinggal kurang dari seminggu untuk berangkat, kalo sampai hari H nanti ternyata cuaca masih buruk maka kacaulah jadwal pulang ke Indonesia!
Sebetulnya untuk ke Lagos bisa ditempuh melalui laut ke Port Harcourt kemudian dilanjutkan dengan kendaraan darat ke Lagos tetapi hal itu sangat tidak diperbolehkan karena alasan keamanan. Transportasi yang diizinkan untuk para expat disini hanya melalui udara, baik dengan helikopter maupun pesawat kecil jenis twin otter.

Mudah-mudahan dalam beberapa kedepan cuaca menjadi bersahabat sehingga saya bisa pulang sesuai rencana.

Thursday, February 21, 2008

6 Hari Lagi Pulang dan Full TDA!

Tidak terasa hari ini sudah 5 tahun 9 bulan saya bekerja di Proyek LNG Nigeria, luar biasa, maksudnya luar biasa tidak disangka, kok bisa tahan, padahal meninggalkan keluarga di Jakarta, cuti hanya 6 bulan sekali, tinggal disebuah pulau kecil, hanya dilingkungan proyek, tidak boleh keluar dari camp karena alasan keamanan, sarana hiburan boleh dibilang sangat minim, belum lagi menu makanan yang sering tidak sesuai selera, tapi itulah salah satu bentuk "perjuangan" untuk menuju kehidupan yang lebih baik, dan alhamdulillah apa yang dicapai telah jauh melebihi target.

Insya Alloh bila tidak ada aral melintang seminggu lagi atau tepatnya tanggal 27 Februari saya akan meninggalkan Nigeria yang penuh dengan perjuangan berat. Dikatakan perjuangan berat karena bekerja didaerah ini penuh dengan tantangan, bukan masalah pekerjaannya tetapi menghadapi buruh lokal, karakter yang keras dan kasar, dan yang paling menakutkan adalah rawannya masalah keamanan. Disini terdapat pusat kelompok militant yang kerjanya adalah menteror dan menculik tenaga expat yang bekerja diwilayah Niger Delta, bahkan sudah beberapa orang expat yang terbunuh dalam beberapa kali serangan baik ke camp maupun dalam perjalanan melalui darat maupun melalui laut.

Tetapi alhamdulillah semuanya akan berakhir, saya mau resign dan pulang ke Indonesia!
Semua ini tidak lain adalah berkat pengaruh yang luar biasa dari komunitas TDA!
Sebetulnya sejak dua tahun yang lalu telah mempersiapkan kepulangan ini, dari mulai rajin mencari segala informasi yang berhubungan dengan dunia wirausaha akhirnya ketemu blog Pak Roni, dari sana kemudian ke blog Pak Hadi Kuntoro, Pak Wuryanano dan sejak itu saya menjadi langganan setia membaca blog-blog para member TDA.

Waktu cuti bulan Juli-Agustus yang lalu saya diskusi dengan isteri dan memutuskan untuk resign setelah 6 bulan lagi, saya ceritakan tentang komunitas TDA dan keinginan untuk bergabung disana. Di Jakarta saya cari-cari buku atau majalah tentang blog, alhamdulillah pada waktu itu majalah Chip mengeluarkan edisi khusus tentang blog, saya beli dan dibawa ke Nigeria.
Akhir Agustus 2007 kembali ke Nigeria, awal bulan September saya langsung bikin blog dan mulai berani menyapa para anggota TDA walaupun belum mendaftar sebagai anggota.

Blog favorit saya adalah blog-nya mas Hadi Kuntoro selain bahasanya yang segar, mengalir lancar, juga provokatif! Kompor mas Hadi memang bikin orang cepet panas, sampai-sampai blog beliau saya bukukan sebagai salah satu bahan belajar saya, terima kasih mas Hadi ya!

Respon pertama terhadap blog saya datangnya dari sahabat dari tetangga negara sebelah, Kuwait, yaitu Pak Fajri Salim, terima kasih atas sambutannya waktu itu pak Fajri!
Tak lama setelah itu saya menemukan sedulur lanang dari Jogya mas Bambang Triwoko yang ternyata sekarang telah menjadi salah satu selebritis baik di TDA Joglo maupun pusat, saya sungguh sangat beruntung mendapatkan sedulur sekaliber mas Bams ini!

Meskipun usia saya hanya terpaut satu tahun dengan mas Bams tetapi hampir dalam segala hal saya tertinggal jauh, mungkin karena saya kebanyakan kluyuran di proyek berkawan dengan pipa-pipa dan peralatan proyek sehingga menjadi kuper J
Sungguh sangat beruntung karena mas Bams ini hatinya mulia, banyak pencerahan dan pembelajaran yang saya peroleh dari beliau. Mas Bams selalu dengan sabar dan tekun menjawab dan menjelaskan kepada saya setiap pertanyaan tentang bisnis, wirausaha dan entreprenuer dengan penuh kesabaran persis guru TK yang sedang mengajarkan muridnya untuk mengenal huruf, matur nuwun ya bro!

Bulan Oktober 2007 mas Bams menginvite saya untuk gabung ke TDA Joglo, tanpa pikir panjang langsung diiyakan. Sahabat semakin banyak, pencerahan semakin mengalir dari komunitas TDA yang semakin membulatkan tekad saya untuk segera melakukan sesuatu.
Provokasi dari komunitas TDA semakin memantapkan saya untuk segera resign.

Bulan November 2007 atas bantuan Pak Roni saya gabung ke TDA Pusat, sejak itu saya merasa bahwa kerja di proyek menjadi semakin membosankan, luar biasa pengaruh dari komunitas TDA ini!

Awal Desember 2007 tanpa disangka-sangka masuklah Pak Harmanto dari MDI ke komunitas TDA dan kemudian ke TDA Joglo. Oleh mas Bams saya diperkenalkan bahwa Pak Harmanto ini selain piawai dalam banyak hal juga mempunyai hobby wayang kulit yang adalah juga merupakan salah satu hobby berat saya, cocoklah!
Hanya dalam hitungan minggu kami bertiga menjadi akrab seperti sedulur sejati, mungkin karena usia kami yang sebaya sehingga bisa berkomunikasi dengan bahasa yang sama, bahasa hati, kami sering bercanda, guyon penuh dengan rasa persodaraan.

Tepat pada tanggal 25 Desember 2007 atas kesepakatan bersama mas Harmanto memproklamirkan berdirinya BAHARA Corporation yang insya alloh merupakan salah satu cikal bakal dari wadah bisnis kami bertiga nantinya. Ini sungguh merupakan suatu karunia bagi saya bahwa hanya dalam hitungan bulan telah mendapatkan sedulur sekaligus calon partner bisnis, padahal beliau berdua ini kalo dalam dunia persilatan sudah memakai sabuk hitam Dan 5 keatas sedangkan saya masih memakai ban putih alias masih nol!

Belakangan saya semakin terkagum-kagum dengan mas Harmanto yang ternyata bener-bener suhu sekelas Bu Kek Siansu yang menguasai hampir apa saja alias all-round!
Ini sungguh merupakan karunia bagi saya. Sebagai member pasif komunitas TDA saja saya sudah berani mau memutuskan untuk resign apalagi kalo nanti berkolaborasi dengan senior-senior seperti mas Bams dan koko prabu Harmanto!

Insya Allah tepat pada tanggal 1 Maret 2008 atau beberapa jam setelah saya menginjakkan kaki di Jakarta saya akan pindah kuadran menjadi full TDA!
Tanggal 24 Januari yang lalu sebetulnya saya telah membeli salah satu franchise fast food sebagai langkah awal untuk memulai belajar berwira usaha yang untuk sementara ini diawasi oleh isteri tercinta.

Alhamdulillah akhirnya keinginan untuk menjadi TDA telah terlaksana, perjalanan masih jauh memang tapi langkah awal telah dimulai, tidak ada yang perlu ditakuti.
Pinjam kata-kata Pak Roni : Take Inspired Action Miracle Happen, No Inspired Action Nothing Happen!