Friday, December 31, 2010

Calendar of Cultural Event Solo 2010

Wilujengan Boyong Kedhaton
4 Januari 2010, venue: Keraton Kasunanan Surakarta

Grebeg Sudiro
14 Februari 2010, venue: Pasar Gede Solo

Solo Karnaval
17 Februari 2010, venue: Jalan Slamet Riyadi Solo

Sekaten
21 - 26 Februari 2010, venue: Alun-alun Utara Kraton Kasunanan Surakarta

Grebeg Mulud
27 Februari 2010, venue: Masjid Agung Kraton Kasunanan Surakarta


Tatacara Adang Tahun Dal 1943 SISKS PB XIII
28 Februari 2010, venue: Gondorasan Kraton Kasunanan Surakarta

Mahesa Lawung
14 April 2010, venue: Keraton Kasunanan Surakarta Hutan Kredhawahana

Bengawan Travel Mart
28 - 30 April 2010, venue: Solo dan kota-kota sekitarnya

Solo Menari
29 April 2010, venue: Jalan Slamet Riyadi Solo

Festival Kuliner
22 - 23 Mei 2010

Seni Kampung Solo
14 - 16 Juni 2010, venue: Kawasan Mangkunegaran

Kreatif Anak Sekolah Solo (KREASSO)
18 - 20 Juni 2010, venue: Kawasan Mangkunegaran

Solo Batik Fashion
20 - 24 Juni 2010, venue: Ngarsopuro Solo

The Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development
21 - 23 Juni 2010, venue: Hotel Sunan

Solo Batik Carnival
23 Juni 2010, venue: Jalan Slamet Riyadi Solo

Mangkunegaran Performing Art
2 - 3 Juli 2010, venue: Pura Mangkunegaran Solo

Kemah Budaya dan Festival Dolanan Bocah
3 - 5 Juli 2010, venue: Alun-alun selatan Keraton Kasunanan Surakarta

Wiyosan Dalem Tingalan Jumenengan Dalem ISKS XIII
8 Juli 2010, venue: Keraton Kasunanan Surakarta

Keraton Art Festival
9 - 10 Juli 2010, venue: Keraton Kasunanan Surakarta

Solo International Performing Art (SIPA)
16 - 18 Juli 2010, venue: Solo

Solo Keroncong Festival
23 - 24 Juli 2010, venue: Solo

Pinjung Kencong
23 Juli 2010, venue: Museum Radya Pustaka

Grand Final Pemilihan Putra-Putri Solo
29 Juli 2010, venue: Ngarsopuro Solo

Solo International Ethnic Music (SIEM)
6 - 8 Agustus 2010, venue: Solo

Malem Selikuran
31 Agustus - 1 September 2010, venue: Kraton Kasunanan Surakarta - Taman Sriwedari

Grebeg Poso
20 - 11 September 2010, venue: Keraton Kasunanan Surakarta

Pekan Syawalan
11 - 21 September 2010, venue: Taman Satwa Taru Jurug dan Taman Balekambang

Festival Keraton Sedunia
26 - 27 September 2010

Bengawan Solo Gethek Festival
9 - 10 Oktober 2010, venue: Langenharjo - Jurug

Pasar Seni Balekambang
24 - 26 Oktober 2010, venue: Taman Balekambang

Grebeg Besar
18 November 2010, venue: Keraton kasunanan Surakarta

Kirab Apem Sewu
venue: Kampung Sewu

Kirab Malam 1 Suro
8 Desember 2010, venue: Keraton Kasunan Surakarta & Masjid Agung Pura Mangkunegaran

Wiyosan Jumenengan SPKGPAA Mangkoe Nagoro IX
15 Desember 2010, venue: Pura Mangkunegaran

Festival Sura
18 - 19 Desember 2010, Keraton Kasunan Surakarta & Pura Mangkunegaran

Gelar Seni Malam Tahun Baru 2011
25 - 31 Desember 2010

Sumber: http://www.pasarsolo.com/

Saturday, March 6, 2010

Mahasiswa Calon Guru Musik Finlandia Kuasai Gamelan

Helsinki - Mahasiswa calon guru musik Finlandia ini antusias menekuni musik gamelan. Jangan kaget kalau suatu saat kelak partitur musik gamelan hanya bisa dimainkan oleh musisi asing.

Tidak seperti biasanya, sore itu di seluruh ruang KBRI Helsinki menggema dentingan metallophone, gambang, gendang dan gong gamelan Jawa nan syahdu, yang mampu membawa angan ke masa kejayaan Nusantara masa lalu.

Setiap orang yang mendengar tabuhan dan dentingan melodi gamelan tersebut pasti menyangka ada sebuah pertunjukkan gamelan di KBRI Helsinki. Namun siapa nyana, ternyata yang memainkan irama gending tersebut adalah para mahasiswa Finlandia.

Sebanyak sepuluh mahasiswa Fakultas Pendidikan Musik, Sibelius Academy Finlandia, melakukan latihan praktik seni musik karawitan di Ruang Gamelan KBRI Helsinki, 4/3/2010.

Mereka melakukan latihan praktik karawitan dengan mempelajari dan membawakan tiga buah gending, yakni Kebo Giro dengan laras slendro dan pelog, Ladrang Pangkur, dan Sampak.

"Latihan praktik tersebut merupakan kelanjutan dari kuliah teori dasar seni musik tradisional Indonesia, yang diberikan oleh Reijo Lainela, 25/2/2010 lalu," tutur Sekretaris III Andy Aron kepada detikcom, Jumat (5/3/2010).

Dalam kuliahnya, selain memaparkan sekilas sejarah musik tradisional Indonesia, teori musik gamelan, dan pengenalan konsep dan peralatan musik klasik Jawa serta Bali, Lainela juga memaparkan seni wayang kulit, gamelan Bali, serta filsafat musik tradisional Indonesia.

Di akhir latihan praktik karawitan tersebut, Lainela yang sehari-hari adalah staf lokal KBRI Helsinki, juga memperkenalkan seni pedalangan Jawa dengan peralatan wayang kulit Purwa.

Sibelius Academy merupakan satu-satunya akademi musik yang menawarkan pendalaman ilmu dan riset di bidang musik di Finlandia. Nama Sibelius Academy juga dikenal sebagai salah satu akademi musik terbaik di Eropa, khususnya di belahan Utara Eropa.

Lebih dari 1400 mahasiswa menimba ilmu musik di akademi tersebut. Lulusan Sibelius Academy banyak yang menjadi seniman musik ternama dunia. Bahkan, diantara lulusan tersebut banyak menjadi tenaga guru musik yang handal.

Menurut Andy, pengenalan musik tradisional Indonesia kepada kalangan mahasiswa perguruan tinggi di Finlandia merupakan salah satu wujud upaya aktif KBRI Helsinki dalam memanfaatkan soft power diplomasi Indonesia, yakni dengan upaya mempromosikan kekayaan khasanah seni dan budaya Indonesia di negara akreditasi.

Dalam praktik karawitan tersebut, kesepuluh calon guru musik menunjukkan minat dan apresiasi mendalam terhadap keanekaragaman seni tanah air. Hal ini ditunjukkan dengan keseriusan dan ketekunan mereka dalam memainkan gending karawitan yang dikenal cukup rumit.

"Pengalaman menunjukkan bahwa pengalaman baik yang diterima oleh kalangan masyarakat setempat terhadap seni budaya Indonesia kerap kali menjelma menjadi agen diplomasi yang efektif," demikian Andy.

Eddi Santosa - detikNews
(es/es)

Monday, March 1, 2010

Horas, Rossi...!!!

Andi Abdullah Sururi - detiksport
Medan - Karpet merah dan tari-tarian tradisional menyambut Valentino Rossi di Medan. Sang juara dunia MotoGP bak pahlawan yang dielu-elukan kehadirannya. "Horas!" sapa Rossi di atas panggung. "Horas, Rossi!"

Hari Minggu 28 Februari 2010 menjadi istimewa untuk warga kota Medan khususnya para penggemar olahraga balap motor. Rossi, pengoleksi sembilan gelar juara dunia di ajang grand prix motor -- enam di kelas MotoGP -- , hadir sebagai tamu spesial Yamaha, yang sedang berbunga-bunga karena musim ini slogan berbahasa Indonesia "Semakin di Depan" menempel di jersey dan bagian belakang motor yang dipakai Rossi (dan Jorge Lorenzo) sepanjang kompetisi tahun 2010.

Ini adalah kali ketiga Rossi bertandang ke Indonesia. Yang pertama ketika ia masih bermain di kelas 125cc dan melakoni balapan di Sirkuit Sentul di tahun 1996. Yang kedua terjadi pada awal Februari 2009 untuk mengadakan jumpa fans di Jakarta, juga atas sponsor Yamaha.

"Selalu menyenangkan bisa bertemu penggemar di sini, di Indonesia. Saya merasa mendapat begitu banyak dukungan. Sayangnya kita bertemu ketika saya tidak sedang bekerja (membalap--Red). Mudah-mudahan lain waktu saya bisa datang ke sini untuk bekerja (pada sebuah balapan)," tutur pria asal Urbino, Italia, tersebut.

Gaya Rossi yang santai dan menghibur memang cukup kentara dalam kunjungannya di Medan. Walaupun masih dalam keadaan lelah karena sehabis mengikuti sesi ujicoba di Sepang, Malaysia -- Rossi mendarat di Medan pada Sabtu malam -- ia tampak berusaha terlihat menyenangkan.

Pada pemunculan pertamanya di depan publik di Grand Aston, Rossi langsung menciptakan derai tawa hadirin. Pada acara jumpa pers, seorang wartawan menyodorkan empat pertanyaan sekaligus. Dan kalimat pertama yang keluar dari mulut sang bintang adalah, "Maaf, saya lupa pertanyaan pertama Anda."

Tentu saja Rossi mengatakan itu dengan maksud bercanda, karena ia kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dalam pertemuannya dengan jurnalis ia mengungkapkan banyak hal mulai dari persiapannya menghadapi musim ini sampai hal-hal di luar balapan.

Sesi berikutnya adalah jumpa fans dengan orang-orang yang telah diseleksi pihak panitia (YMKI). Rossi muncul dengan penuh gaya. Setelah pembawa acara memperkenalkan dirinya, ia muncul dari balik layar panggung, dengan menaiki sepeda motor Yamaha, dengan lampu depan menyala. Ratusan penonton langsung melupakan tempat duduknya untuk merapat ke pinggir panggung, supaya bisa lebih dekat dengan atlet pujaannya.

Di situ Rossi meladeni langsung pertanyaan dari para penggemar. "Karena saya orang Italia, saya paling suka pasta," tukas dia saat ditanya seorang peserta tentang makanan favoritnya.

Lalu ada pertanyaan lain, tipe wanita seperti apa yang ia dambakan. Rossi tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah seorang penonton wanita. Suasana pun heboh lagi oleh teriakan-teriakan histeris penonton, tak ubahnya sedang menonton konser musik.

Seorang penonton bertanya, "Kapan Anda akan memakai kostum Italia lagi, seperti waktu Anda memakai baju (Marco) Materazzi di final Piala Dunia 2006?" Rossi menjawab, "Kalau Italia juara dunia lagi. Tapi sepertinya kali ini sulit." Nah lho!

Masih soal sepakbola, Rossi ditanya siapa pemain favorit di tim favoritnya, Inter Milan. "Semua pemain Inter saya suka. Misalnya Mario Balotelli dan Diego Milito. Saya belum pernah bertemu Balotelli, tapi saya rasa dia pemain yang bagus."

Acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan Rossi ke Sentral Yamaha Medan di Jl. Adam Malik No. 30. Ratusan orang yang menantinya dengan tidak sabar akhirnya bisa melihat sang bintang sekitar jam 2 siang. Layaknya pejabat atau orang penting, panitia menyiapkan karpet merah untuk dilalui Rossi.

Begitu Rossi datang, enam anak-anak berpakaian adat menyambutnya dengan tarian. Selembar kain ulos khas Sumatera Utara, yang di bagian belakangnya dituliskan nomor 46, dikenakan kepada dia. Begitu didaulat naik ke podium, sambil menebar senyum Rossi pun melambai-lambaikan tangannya kepada penonton. "Rossi, Rossi, Rossi … " warga pun meneriakkan namanya.

"Ini luar biasa. Kami sangat senang dengan sambutan orang Indonesia. Mereka masyarakat yang menyenangkan. Kami tidak menyangka sambutan buat Rossi sebegitunya hebatnya di sini," tutur manajer tim Fiat Yamaha dan Rossi, Davide Brivio, kepada detiksport.

Setelah melihat isi kantor dealer Yamaha, terakhir Rossi naik ke panggung yang telah disiapkan panitia. Ia memberi kenang-kenangan kepada empat anak yatim piatu perwakilan dari empat agama. Lalu ia memberi pidato singkat, yang didahului dengan salam khas Medan, "Horas!" Penonton pun membalasnya dengan seruan yang sama penuh semangat: "Horas, Rossi!"

Rossi mengatakan dirinya sangat senang bisa datang ke Indonesia lagi dan berterima kasih atas segala sambutan yang ia terima. Hari itu juga Rossi meninggalkan Medan untuk mengunjungi satu lagi kota di tanah air, di mana ia akan bertemu fansnya di Surabaya pada hari Senin (1/3/2010). ( a2s / krs )

Saturday, January 23, 2010

Tee Boen Liong, Dalang Kondang Murid Alm. Ki Nartosabdho

Berawal dari Ketagihan Bunyi Gamelan Ki Sabdho Sutedjo merupakan salah seorang di antara sedikit dalang yang hingga kini masih intens melestarikan wayang kulit.

Berbeda dari dalang lain, Sabdho Sutedjo alias Tee Boen Liong adalah keturunan Tionghoa asli.

DEDY H. SAHRUL

RUMAH di kawasan Ploso Timur itu cukup asri. Desainnya minimalis. Di depan rumah tersebut, nongkrong Honda Jazz hitam. Di rumah itulah Ki Sabdho Sutedjo tinggal bersama Ivanna Suprijanto, istrinya.

Aksesori rumah seharga Rp 400 juta tersebut benar-benar mencerminkan jati diri Sabdho Sutedjo alias Tee Boen Liong. Rumah itu dipenuhi aksesori khas pewayangan. Mulai berbagai tokoh wayang kulit hingga gunungan. "Sudah empat tahun saya tinggal di sini. Kebetulan, istri saya seorang fotografer," kata Tedjo sembari menunjukkan jajaran foto di dinding rumah tersebut.

Memang, dunia pewayangan tampak sudah mendarah daging dalam diri pria kelahiran 1967 itu. Adalah Djie Siek Poo, kakeknya, yang pertama mengenalkan Tedjo pada dunia pakeliran tersebut. Memang, sang kakek bukan pemain wayang murni. Dia juga bukan dalang. Engkong Tedjo adalah seorang juragan yang punya grup wayang orang. Grup itu bernama Warga Budhaya.

Karena itu, sang kakek sering mementaskan wayang.. Lalu, Tan Gwan Nio, ibu Tedjo, menjadi penjual karcis. Biasanya, Tedjo menemani Tee Swie Lam, ayahnya, menjadi penjaga opera wayang. Dulu, pertunjukan mereka kerap diadakan di kawasan Pacar Keling. "Itu lho, di gedung yang sekarang mangkrak," ungkapnya.

Pelan-pelan, Tedjo kecil mulai mencintai wayang. Dia ketagihan. "Yang saya sukai kali pertama adalah bunyi gamelannya," ujar anak ketiga di antara enam bersaudara tersebut.
Lambat-laun, dia mulai meleburkan diri dalam dunia wayang. Rumahnya di Jalan Pengampon sering dijadikan ajang mengasah kemampuannya. "Saya suka berdandan menjadi Gatotkaca," katanya. Memang, sebelum mengenal wayang kulit, dia mengenal wayang orang.

Gerak-gerik Tedjo terlihat oleh kakeknya. Sang kakek pun menganggap cucunya berbakat. "Sayang sekali, pada 1969, usaha wayang kakek ditutup. Akhirnya, saya belajar sendiri," jelasnya.

Dia pun mulai belajar tentang wayang secara otodidak. Menggunakan wayang karton, dia mempraktikkan gerakan yang dilihat setiap menonton wayang. Namun, kadang dia mengalami kesulitan mempelajari suluk dan bawa (kalimat-kalimat pakem wayang kulit). "Saya nggak bisa mengartikan kata-katanya. Saya waktu itu gak bisa blas bahasa Jawa krama," tegasnya.

Untuk meningkatkan kemampuan, dia meningkatkan frekuensi pertunjukan wayang. Walau tidak tahu siapa yang mendalang, Tedjo cuek. Usai menonton, dia selalu mencoba berbagai gerakan yang baru dilihat.

Sekitar 1975, Tedjo yang masih sekolah di SD YPPI tersebut mulai sering tampil di beberapa pertunjukan wayang orang. "Karena sudah terbiasa, saya pede aja, walaupun gak dibayar," ujar pria yang dulu belajar wayang dari kaset dalang kondang Ki Anom Suroto itu.

Sebelumnya, pada 1972, dia manggung bersama kelompok Perbusa, kelompok wayang orang beranggota warga Tionghoa, di Taman Remaja.
Dibimbing guru bernama Supagiono, dia berperan sebagai Gatotkaca yang juga disebut Satria Pringgandani. Lewat tokoh putra Bima itulah keberanian Tedjo meningkat.

Kakek Tedjo lantas menyuruh dia berguru pada Asiman secara privat.
Asiman adalah pemain Petruk pada kelompok wayang orang milik kakeknya. Tentu, dia kian sering memerankan Jabang Tetuka, nama kecil Gatotkaca. Semua itu terekam dalam berbagai foto masa kecil yang masih dia simpan.

Untuk memperdalam bahasa serta alur cerita, Tedjo memilih banyak membaca komik. Dia ingat ada tempat persewaan komik yang biasa didatangi. "Saya suka Ramayana dan Mahabharata, " katanya. Biasanya, dia membaca komik karangan R.A. Kosasih.

Itulah awal ketertarikan dia pada wayang kulit. Sebab, Tedjo juga ingin bisa memerankan semua lakon dalam tokoh pewayangan. "Kalau wayang orang, kan gak bisa ganti-ganti, " tegasnya.
Dia lantas mati-matian mempelajari wayang kulit. "Saya sering menghafal, walaupun ada kata yang tidak saya mengerti," ungkapnya.
Ada cara yang menurut dia mempermudah menghafal. Yaitu, mencari inti lakon. "Kan pakemnya sudah ada, jadi tinggal mengikuti," ujarnya.

Pada Agustus 1975, dia kali pertama menjajal pertunjukan tunggalnya. Lakonnya adalah Wahyu Cakraningkat, lakon ketika Gatotkaca mendapat wahyu sebagai prajurit setelah dilahirkan di Kawah Candradimuka. Tedjo yang baru berumur delapan tahun itu bisa memukau penonton. "Penonton di kampung, maksudnya. Jadi, waktu itu saya tidak dibayar," katanya lantas tertawa.

Pada 1977, saat berumur 10 tahun, dia punya guru baru. Namanya Syamsuri Karyono. Tedjo pun kian matang. Dia kali pertama ikut festival pada 1978. "Saya kalah di Jakarta setelah juara di tingkat Jatim," jelasnya.

Saat belum akil balik itu, Tedjo kian berani mendalang. Tak hanya di pentas, dia juga pernah ditanggap TVRI. Dia melakonkan Sesaji Suya selama sejam. Meski begitu, dia tak mau berpuas diri. Pada 1979, dirinya bersua Ki Nartosabdo, maestro wayang Indonesia. Ketika itu, "profesor" wayang tersebut sedang ke Surabaya karena diundang orang yang mantu di Kenjeran.

Tak mau kehilangan kesempatan mengasah ilmu, Tedjo langsung meminta agar Nartosabdo menerima dirinya sebagai cantrik. Barangkali, Nartosabdo, dalang yang juga menciptakan berbagai lagu Gambang Suling dan Prau Layar itu, tertarik lantaran Tedjo adalah warga Tionghoa. "Dia menerima saya sebagai murid," ungkapnya. Dia pun harus sering bolak-balik Surabaya-Semarang.

Ternyata, ilmu yang diturunkan Nartosabdo lebih berat. Tedjo mulai diajari sastra pewayangan dan filosofinya. Dia juga belajar berbagai teknik bawa, suluk, hingga sabet (cara memegang dan menggerakkan wayang pada kelir atau layar).

Tedjo lantas sering diajak main dan rekaman di Kusuma Record. Hingga 1985, dia terus wira-wiri Surabaya-Semarang. "Saya sering bikin alasan sakit waktu SMA agar bisa ke Semarang untuk waktu yang agak lama," jelasnya. Sekali show, dia pernah dibayar Rp 300 ribu (sekarang sekitar Rp 3 juta).

Pada 1986, Tedjo berduka. Gurunya yang "membaptis" dirinya dengan nama Sabdho Sutedjo mangkat. Dia pun gamang. Namun, itu tak bertahan lama. Pada 1987, dia mulai membentuk grup dan sering membuat show tunggal bersama kelompoknya yang bernama Manunggal.

Dari situlah nama Tedjo mulai menanjak. Group tersebut sekarang terdiri atas empat sinden plus 18 pengrawit (penabuh gamelan). Pria yang baru menikah pada Juni tahun ini itu pun kerap terbang ke berbagai penjuru Nusantara.

Kini, Tedjo mengaku sudah menikmati perjuangan panjangnya tersebut. Setiap bulan, dia menyatakan selalu menerima dua hingga tiga job.
Yang berkesan, kata dia, ketika dirinya mengadakan pertunjukan di Lampung, Mei lalu. "Yang nonton berjumlah 2.500 orang. Bahkan, hingga selesai, tetap berjumlah 2.500 orang," tegasnya bangga.

Tedjo pun tak malu mengakui bahwa statusnya sebagai Tionghoa memberikan keuntungan sendiri. "Pertama, saya mempunyai trade mark. Lalu, kalau salah, mungkin bisa dimaklumi orang lain," ujarnya lantas tersenyum.
Dia berharap suatu saat bisa menampilkan lakon Ramayana. Sebab, selama ini, pelanggan lebih tertarik pada kisah Mahabharata. "Ramayana menarik. Ada kethek-kethek (monyet)-nya, "
ungkapnya.

Sarjana ekonomi lulusan Universitas Wijaya Kusuma itu pun tak segan menceritakan rahasia penampilannya yang selalu prima. Itu, kata dia, terletak pada manajemen diri. "Saya rajin puasa Senin-Kamis. Itu anjuran Pak Nartosabdo," jelasnya.

Dia pun memegang petuah penting dari gurunya tersebut. Yaitu, agar Tedjo lebih mementingkan kualitas pewayangan daripada kuantitas. "Guru berpesan agar saya menjadi dalang ternama, bukan dalang yang laris. Sebab, kalau laris, kan ada masanya," ujarnya. (*)

Monday, December 28, 2009

Waspada Pengaruh Jejaring Sosial Dunia Maya pada Anak

Berkembangnya situs jejaring sosial sebagai tren komunikasi masyarakat modern, perlu disikapi para orang tua dengan hati-hati.

Pasalnya, anak-anak dikhawatirkan dapat terpengaruh negatif dengan arus informasi yang demikian bebas dalam situs jejaring sosial.

Riset di Inggris baru-baru ini mencatat, 3/4 anak-anak mengunjungi situs jejaring sosial tanpa sepengetahuan orang tua. Rata-rata dari mereka merupakan anak-anak yang pernah dihukum orang tuanya saat ketahuan mengunjungi situs pertemanan macam Facebook atau Bebo.

"Di Eropa, mayoritas remaja pengguna internet aktif mengakses situs jejaring sosial, dan di Inggris raya, sekitar 3/4 remaja pengguna internet mengakses situs yang sama," tukas peneliti, Profesor Tanya Brown seperti yang dilansir Telegraph, Senin (30/11).

"Bagaimana bisa 90% orang tua tidak membolehkan anaknya mengunjungi situs jejaring sosial?bahkan secara diam-diam, ini pertanda ada masalah dan mengkhawatirkan," tambahnya.

Dia berpendapat, pada dasarnya situs macam fFacebook atau Bobe memiliki batas umur yang berhak mengakses situs. Misalnya, Facebook yang membatasi usia yang berhak mengakses pada usia 13 tahun. Tapi Brown mengingatkan orang tua untuk bersikap hati-hati.

"Anak-anak mendapatkan manfaat dari situs jejaring sosial dimana dia memperluas jangkauan pergaulan dan mengahbiskan waktu dengan teman sepermainan," tukasnya.

"Tapi hal yang terjadi, anak-anak yang mengunjungi situs malahan saling menganggu satu sama lain, lantaran tidak ada satupun yang berbicara dengan mereka tantang komunikasi via dunia maya dan komunikasi sesungguhnya," tambahnya.

Brown menilai, sangat mudah untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Cukup tekan tombol kirim maka komunikasi pun berlangsung. Namun dia mengingatkan, sudah seharusnya anak-anak mengetahui maksud dan esensi berkomunikasi lewat dunia maya.

Dari catatan penelitian sebelumnya, tercatat 62% anak-anak berbohong kepada orang tuanya tentang prilaku mereka yang berkaitan dengan dunia maya. Riset tersebut menjelaskan, rata-rata anak sebetulnya tidak memahami apa yang dia lakukan dan dampaknya terhadap mereka. Anak-anak dengan sukses mengelabui orang tua mereka dengan menyembunyikan apa yang sebenarnya dilakukan saat berada di dunia maya. cr2/rin

Friday, December 25, 2009

PBNU: Hukumnya Haram, Hentikan Tayangan Infotainment Ghibah

Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa tayangan infotainment ghibah atau gosip hukumnya haram.

Fatwa haram tersebut berdasarkan hasil Musyawarah Alim Ulama NU di Surabaya, juli 2006 lalu.

Karena itulah, PBNU mendesak tayangan infotainment gosip segera dihentikan. Sebab, pemberitan yang mengobral masalah pribadi dan keluarga orang bisa berdampak buruk bagi masyarakat.

"PBNU minta agar tayangan infotainment di media dihentikan. Karena pemberitaan itu mengobral rahasia keluarga, serta mengaduk aduk hubungan antar anggota keluarga," kata Hasyim dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (25/12/2009).

Menurut pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini, infotainment gosip merupakan pembunuhan karakter orang yang diberitakan. "Karena hal tersebut sama sekali tidak menjadi bagian dari kebebasan dan demokrasi, namun menjadi bagian dari pembunuhan karakter dalam kerukunan atau ketenangan keluarga," jelasnya.

Dalam Islam, lanjutnya, berita gosip merupkan larangan keras yang dihukumi haram. "Bahkan diibaratkan dalam Al-Quran sebagai seorang yang tega memakan daging bangkai saudaranya sendiri dalam mencari rezeki," tutur mantan Ketua PW GP Ansor Jawa Timur ini.

Karena itu, lanjut Hasyim, orang atau keluarga yang merasa dirugikan atas pemberitaan infotainment gosip sebenarnya berhak menuntut rehabilitasi atas nama baiknya dalam kaitannya dengan hak azasi manusia.

"Media harus segera menghentikannya, dari pada setiap hari makan korban," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Hasyim mengajak para pengelola infotainment untuk mencari rizki yang halal di tengah sulitnya ekonomi bangsa Indonesia. Bukan dengan cara 'menjual' berita-berita gosip.

"Kalau ada orang senang keluarganya diaduk-aduk untuk cari popularitas, justru orang tersebut tidak normal. Marilah kita mencari rizki secara halal dalam sulitnya ekonomi saat ini," katanya.

Kiai kelahiran Bangilan Tuban ini mendesak pemerintah, dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informatika(menkominfo) untuk mengambil inisiatif dalam rangka menertibkan tayangan yang merusak tersebut. "Apalagi Pak Tifatul selama ini dianggap paling Islami," pungkas Hasyim.
(van/yid)