Berawal dari Ketagihan Bunyi Gamelan Ki Sabdho Sutedjo merupakan salah seorang di antara sedikit dalang yang hingga kini masih intens melestarikan wayang kulit.Berbeda dari dalang lain, Sabdho Sutedjo alias Tee Boen Liong adalah keturunan Tionghoa asli.
DEDY H. SAHRUL
RUMAH di kawasan Ploso Timur itu cukup asri. Desainnya minimalis. Di depan rumah tersebut, nongkrong Honda Jazz hitam. Di rumah itulah Ki Sabdho Sutedjo tinggal bersama Ivanna Suprijanto, istrinya.
Aksesori rumah seharga Rp 400 juta tersebut benar-benar mencerminkan jati diri Sabdho Sutedjo alias Tee Boen Liong. Rumah itu dipenuhi aksesori khas pewayangan. Mulai berbagai tokoh wayang kulit hingga gunungan. "Sudah empat tahun saya tinggal di sini. Kebetulan, istri saya seorang fotografer," kata Tedjo sembari menunjukkan jajaran foto di dinding rumah tersebut.
Memang, dunia pewayangan tampak sudah mendarah daging dalam diri pria kelahiran 1967 itu. Adalah Djie Siek Poo, kakeknya, yang pertama mengenalkan Tedjo pada dunia pakeliran tersebut. Memang, sang kakek bukan pemain wayang murni. Dia juga bukan dalang. Engkong Tedjo adalah seorang juragan yang punya grup wayang orang. Grup itu bernama Warga Budhaya.
Karena itu, sang kakek sering mementaskan wayang.. Lalu, Tan Gwan Nio, ibu Tedjo, menjadi penjual karcis. Biasanya, Tedjo menemani Tee Swie Lam, ayahnya, menjadi penjaga opera wayang. Dulu, pertunjukan mereka kerap diadakan di kawasan Pacar Keling. "Itu lho, di gedung yang sekarang mangkrak," ungkapnya.
Pelan-pelan, Tedjo kecil mulai mencintai wayang. Dia ketagihan. "Yang saya sukai kali pertama adalah bunyi gamelannya," ujar anak ketiga di antara enam bersaudara tersebut.
Lambat-laun, dia mulai meleburkan diri dalam dunia wayang. Rumahnya di Jalan Pengampon sering dijadikan ajang mengasah kemampuannya. "Saya suka berdandan menjadi Gatotkaca," katanya. Memang, sebelum mengenal wayang kulit, dia mengenal wayang orang.
Gerak-gerik Tedjo terlihat oleh kakeknya. Sang kakek pun menganggap cucunya berbakat. "Sayang sekali, pada 1969, usaha wayang kakek ditutup. Akhirnya, saya belajar sendiri," jelasnya.
Dia pun mulai belajar tentang wayang secara otodidak. Menggunakan wayang karton, dia mempraktikkan gerakan yang dilihat setiap menonton wayang. Namun, kadang dia mengalami kesulitan mempelajari suluk dan bawa (kalimat-kalimat pakem wayang kulit). "Saya nggak bisa mengartikan kata-katanya. Saya waktu itu gak bisa blas bahasa Jawa krama," tegasnya.
Untuk meningkatkan kemampuan, dia meningkatkan frekuensi pertunjukan wayang. Walau tidak tahu siapa yang mendalang, Tedjo cuek. Usai menonton, dia selalu mencoba berbagai gerakan yang baru dilihat.
Sekitar 1975, Tedjo yang masih sekolah di SD YPPI tersebut mulai sering tampil di beberapa pertunjukan wayang orang. "Karena sudah terbiasa, saya pede aja, walaupun gak dibayar," ujar pria yang dulu belajar wayang dari kaset dalang kondang Ki Anom Suroto itu.
Sebelumnya, pada 1972, dia manggung bersama kelompok Perbusa, kelompok wayang orang beranggota warga Tionghoa, di Taman Remaja.
Dibimbing guru bernama Supagiono, dia berperan sebagai Gatotkaca yang juga disebut Satria Pringgandani. Lewat tokoh putra Bima itulah keberanian Tedjo meningkat.
Kakek Tedjo lantas menyuruh dia berguru pada Asiman secara privat.
Asiman adalah pemain Petruk pada kelompok wayang orang milik kakeknya. Tentu, dia kian sering memerankan Jabang Tetuka, nama kecil Gatotkaca. Semua itu terekam dalam berbagai foto masa kecil yang masih dia simpan.
Untuk memperdalam bahasa serta alur cerita, Tedjo memilih banyak membaca komik. Dia ingat ada tempat persewaan komik yang biasa didatangi. "Saya suka Ramayana dan Mahabharata, " katanya. Biasanya, dia membaca komik karangan R.A. Kosasih.
Itulah awal ketertarikan dia pada wayang kulit. Sebab, Tedjo juga ingin bisa memerankan semua lakon dalam tokoh pewayangan. "Kalau wayang orang, kan gak bisa ganti-ganti, " tegasnya.
Dia lantas mati-matian mempelajari wayang kulit. "Saya sering menghafal, walaupun ada kata yang tidak saya mengerti," ungkapnya.
Ada cara yang menurut dia mempermudah menghafal. Yaitu, mencari inti lakon. "Kan pakemnya sudah ada, jadi tinggal mengikuti," ujarnya.
Pada Agustus 1975, dia kali pertama menjajal pertunjukan tunggalnya. Lakonnya adalah Wahyu Cakraningkat, lakon ketika Gatotkaca mendapat wahyu sebagai prajurit setelah dilahirkan di Kawah Candradimuka. Tedjo yang baru berumur delapan tahun itu bisa memukau penonton. "Penonton di kampung, maksudnya. Jadi, waktu itu saya tidak dibayar," katanya lantas tertawa.
Pada 1977, saat berumur 10 tahun, dia punya guru baru. Namanya Syamsuri Karyono. Tedjo pun kian matang. Dia kali pertama ikut festival pada 1978. "Saya kalah di Jakarta setelah juara di tingkat Jatim," jelasnya.
Saat belum akil balik itu, Tedjo kian berani mendalang. Tak hanya di pentas, dia juga pernah ditanggap TVRI. Dia melakonkan Sesaji Suya selama sejam. Meski begitu, dia tak mau berpuas diri. Pada 1979, dirinya bersua Ki Nartosabdo, maestro wayang Indonesia. Ketika itu, "profesor" wayang tersebut sedang ke Surabaya karena diundang orang yang mantu di Kenjeran.
Tak mau kehilangan kesempatan mengasah ilmu, Tedjo langsung meminta agar Nartosabdo menerima dirinya sebagai cantrik. Barangkali, Nartosabdo, dalang yang juga menciptakan berbagai lagu Gambang Suling dan Prau Layar itu, tertarik lantaran Tedjo adalah warga Tionghoa. "Dia menerima saya sebagai murid," ungkapnya. Dia pun harus sering bolak-balik Surabaya-Semarang.
Ternyata, ilmu yang diturunkan Nartosabdo lebih berat. Tedjo mulai diajari sastra pewayangan dan filosofinya. Dia juga belajar berbagai teknik bawa, suluk, hingga sabet (cara memegang dan menggerakkan wayang pada kelir atau layar).
Tedjo lantas sering diajak main dan rekaman di Kusuma Record. Hingga 1985, dia terus wira-wiri Surabaya-Semarang. "Saya sering bikin alasan sakit waktu SMA agar bisa ke Semarang untuk waktu yang agak lama," jelasnya. Sekali show, dia pernah dibayar Rp 300 ribu (sekarang sekitar Rp 3 juta).
Pada 1986, Tedjo berduka. Gurunya yang "membaptis" dirinya dengan nama Sabdho Sutedjo mangkat. Dia pun gamang. Namun, itu tak bertahan lama. Pada 1987, dia mulai membentuk grup dan sering membuat show tunggal bersama kelompoknya yang bernama Manunggal.
Dari situlah nama Tedjo mulai menanjak. Group tersebut sekarang terdiri atas empat sinden plus 18 pengrawit (penabuh gamelan). Pria yang baru menikah pada Juni tahun ini itu pun kerap terbang ke berbagai penjuru Nusantara.
Kini, Tedjo mengaku sudah menikmati perjuangan panjangnya tersebut. Setiap bulan, dia menyatakan selalu menerima dua hingga tiga job.
Yang berkesan, kata dia, ketika dirinya mengadakan pertunjukan di Lampung, Mei lalu. "Yang nonton berjumlah 2.500 orang. Bahkan, hingga selesai, tetap berjumlah 2.500 orang," tegasnya bangga.
Tedjo pun tak malu mengakui bahwa statusnya sebagai Tionghoa memberikan keuntungan sendiri. "Pertama, saya mempunyai trade mark. Lalu, kalau salah, mungkin bisa dimaklumi orang lain," ujarnya lantas tersenyum.
Dia berharap suatu saat bisa menampilkan lakon Ramayana. Sebab, selama ini, pelanggan lebih tertarik pada kisah Mahabharata. "Ramayana menarik. Ada kethek-kethek (monyet)-nya, "
ungkapnya.
Sarjana ekonomi lulusan Universitas Wijaya Kusuma itu pun tak segan menceritakan rahasia penampilannya yang selalu prima. Itu, kata dia, terletak pada manajemen diri. "Saya rajin puasa Senin-Kamis. Itu anjuran Pak Nartosabdo," jelasnya.
Dia pun memegang petuah penting dari gurunya tersebut. Yaitu, agar Tedjo lebih mementingkan kualitas pewayangan daripada kuantitas. "Guru berpesan agar saya menjadi dalang ternama, bukan dalang yang laris. Sebab, kalau laris, kan ada masanya," ujarnya. (*)