Solo, CyberNews. Layaknya Yogyakarta, koridor Jalan Gatot Subroto akan disulap menjadi "Malioboro"-nya Solo. Di areal sepanjang 600 meter dari arah Jl Slamet Riyadi hingga Jl Dr Rajiman itu nantinya akan ditata dan dijadikan 'walking street'.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Surakarta, Ir Budi Yulistianto menjelaskan kawasan itu nantinya akan menjadi pusat penjualan 'handicraft' khas Solo. Bila Gladag Langen Bogan (Galabo) khusus menyediakan wisata kuliner, 'walking street' menyediakan wisata non kuliner.
"Walking street' di Jalan Gatot Subroto itu nanti merupakan terusan dari kawasan Ngarsapura. Proyeksinya nanti akan ada 3.000 UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) khusus 'handicraft' yang akan berjualan di situ," jelasnya, Rabu (23/12).
Untuk mengerjakan proyek itu, Pemkot Surakarta telah mendapatkan bantuan dana alokasi khusus (DAK) dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan sebesar Rp 15 miliar. "Saat ini tengah dikerjakan DED (detail engineering design)-nya. APBD mengalokasikan Rp 100 juta untuk pembuatannya," imbuhnya.
Pekerjaan itu nanti bakal dimulai tahun 2010, dan dipastikan selesai tahun itu juga. "Sehingga tahun 2010 juga bisa langsung dioperasikan." Dengan demikian, kawasan 'night market' yang sebelumnya sudah ada di depan Mangkunegaran dan Pasar windujenar (Ngarsapura) akan diteruskan ke arah selatan menuju 'walking street'.
"Selain untuk PKL, nantinya juga akan disediakan plasa untuk pertunjukan musik atau 'performance' kesenian lainnya."
Tahun 2010, Pura Mangkunegaran juga akan mendapatkan bantuan dari Pemerintah Pusat Rp 20,5 miliar. Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), Agus Witiarso beberapa waktu lalu mengatakan dana tersebut akan dipergunakan untuk merevitalisasi kawasan Pamedan, Kavaleri dan Reksa Pustaka. "Kawasan itu memang sudah mendesak direvitalisasi, karena kondisinya sudah memprihatinkan."
Dengan penataan Mangkunegaran dan kawasan sekitarnya (ngarsapura) diharapkan bisa menjadi salah satu ikon kota.
( Anie R Rosyidah / CN14 )
sumber: suaramerdeka.com