Di Nigeria sebenarnya hanya ada dua musim seperti halnya di Indonesia yaitu musim panas dan musim hujan karena memang letak geografisnya yang hampir sama yaitu di lintasan garis katulistiwa, hanya saja letak Nigeria berada sedikit diselatan garis katulistiwa.
Dulu sebelum menginjakkan kaki ke Nigeria saya pikir negara ini gersang, kering, berpasir luas dan suhu yang panas seperti halnya negera-negara Afrika seperti yang terlihat di tv-tv, ternyata dugaan itu salah karena alam di Nigeria boleh dikatakan nyaris sama dengan Indonesia khususnya dengan wilayah Sumatera bagian selatan, banyak pepohonan dan juga kebun-kebun liar.
Tetapi ada "musim khusus" di Nigeria yang tidak terdapat di Indonesia, orang sini menyebutnya "harmattan" yaitu datangnya semacam awan atau kabut putih kekuning-kuningan yang menyelimuti udara sepanjang hari dan membawa hawa dingin.
Ternyata apa yang kelihatan seperti kabut ini sebetulnya berupa partikel-partikel halus (debu) yang dihembuskan dari wilayah selatan Nigeria atau tepatnya dari Gurun Sahara.
Harmattan ini biasanya terjadi pada bulan Desember atau Januari dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan.
Saat ini disini sedang musim harmattan dan hari ini adalah hari ketiga yang terparah, artinya kabut harmattan yang menyelimuti udara sangat pekat sehingga membuat jarak pandang menjadi terganggu, daun-daunan menjadi berwarna putih, begitu juga atap-atap bangunan, kalo di Indonesia seperti pada waktu terjadi hujan debu.
Akibat langsung dari harmattan ini adalah timbulnya berbagai gangguan kesehatan seperti batuk, iritasi mata, sesak nafas, bahkan juga demam. Maka apabila musim harmattan tiba para pekerja proyek diwajibkan mengenakan masker penutup hidung.
Akibat lain dari harmattan adalah terganggunya dunia penerbangan, inilah yang saat ini menjadi kekhawatiran karena rencananya minggu depan saya harus pergi ke bandara internasional Lagos untuk seterusnya menuju Jakarta.
Sudah tiga hari ini pesawat proyek yang biasanya melayani para expat untuk pergi ke Lagos dibatalkan sehingga banyak calon penumpang yang terpaksa ditunda keberangkatannya sampai waktu yang belum bisa ditentukan!
Waktu saya tinggal kurang dari seminggu untuk berangkat, kalo sampai hari H nanti ternyata cuaca masih buruk maka kacaulah jadwal pulang ke Indonesia!
Sebetulnya untuk ke Lagos bisa ditempuh melalui laut ke Port Harcourt kemudian dilanjutkan dengan kendaraan darat ke Lagos tetapi hal itu sangat tidak diperbolehkan karena alasan keamanan. Transportasi yang diizinkan untuk para expat disini hanya melalui udara, baik dengan helikopter maupun pesawat kecil jenis twin otter.
Mudah-mudahan dalam beberapa kedepan cuaca menjadi bersahabat sehingga saya bisa pulang sesuai rencana.