Bonny Island adalah sebuah pulau kecil yang terletak diwilayah barat laut Nigeria yang pupulasi penduduknya hanya ribuan jiwa saja. Di pulau ini terdapat dua wilayah pemukiman utama yaitu Bonny town dan Finima town, selain di dua tempat tersebut masih ada lagi beberapa kelompok kecil penduduk yang tinggal didesa-desa pinggiran pemukiman utama.
Bonny town merupakan desa terpadat dipulau Bonny, tetapi keadaannya sangat tidak teratur, baik lalu lintas maupun bangunan2 yang ada, secara umum kondisinya sangat kumuh dan kotor apalagi pasarnya, jorok!. Sebagian besar jalanan yang ada masih berupa tanah atau bebatuan. Bangunan2 yang ada rata-rata kondisinya sangat jelek baik desain maupun kualitasnya, keliatan bahwa bangunan disini samasekali tidak menggunakan rancangan pada waktu mendirikannya, secara umum situasi Bonny town seperti desa terpencil di Indonesia pada tahun 60an!.
Sedangkan Finima town lebih parah lagi, disamping lebih kecil wilayahnya juga tingkat kekumuhannya lebih memprihatinkan dibandingkan dengan Bonny town. Penjual lapak tersebar dimana-mana, penjual makanan menggelar dagangannya dipinggir jalan dengan begitu saja, sama sekali mengabaikan masalah kebersihan, kotor dan maaf, menjijikkan.
Begitulah keadaan kedua desa yang ada di Bonny Island.
Selain bahasa lokal, sehari-hari mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris karena dulunya negara ini memang bekas koloni Inggris.
Ketika pertama kali mendarat di Bonny Island, sambutan mereka sungguh luar biasa, mereka begitu ramah dan antusias menyambut rombongan kami, seperti kata2 :"Hello masta (maksudnya mister), how are you, welcome to Nigeria" atau "Hello brother, how's your journey, everything ok?" atau "Hello my friend, how's your family..." dlsb. pokoknya hangat, sangat bersahabat, menyenangkan, dengan senyum lebarnya sambil menjabat tangan kita, bahkan mereka juga mencoba untuk membantu barang bawaan kita, wah hebat nih, kok beda jauh sama yang di Indonesia pada jadi bandar sabu2 dan bisnis kotor lainnya, begitu pikir saya.
Tapi jangan salah, rupanya dibalik itu semua ada maunya, karena setelah mengucapkan kata2 ramah tadi, belakangan mereka akan mengucapkan kalimat2 susulan seperti misalnya : "What do you bring for me my friend?" atau "Anything for your brother mister?”, “Do you have something for your boy or for your man or as a friend?" dlsb. yang intinya adalah minta sesuatu dari kita, bahkan barang yang kita pakai saja semisal jam tangan, kacamata, topi, bahkan cellphone atau mp3 player atau apapun, tanpa segan2 mereka berusaha untuk memintanya sebagai “souvenir” atau sebagai "tali persahabatan".
Dan kalimat2 tersebut tanpa bosen2 dan tanpa malu2 selalu diucapkan disetiap kesempatan khususnya apabila kita baru datang dari bepergian, apalagi kalo ada yang baru kembali dari cuti. Memang sih mereka nggak maksa dan bukannya kita pelit, dan kalo yang ngomong gitu cuman satu dua orang sih mending, lha ini hampir setiap orang yang ditemui ngomong begitu, dimanapun, kenal atau nggak kenal, apa nggak risih!
Sehingga akhirnya setiap kali kembali dari cuti, sebelum mereka sempet ngomong, saya yang mendahului ngomong seperti mereka. Ngakak-lah mereka, rasain…!
Tetapi tentu saja ada beberapa kelebihan yang mereka miliki, terutama fisiknya, rata-rata postur orang Nigeria tinggi besar, banyak yang tubuhnya atletis, tapi banyak juga “kelebihan” yang laennya misalnya, makannya banyak, kalo ngomong suaranya kenceng dan intonasinya kasar sehingga dulu ketika masih baru saya sering terkejut2 saya pikir ada orang berantem, eh ternyata mereka cuma lagi ngobrol “biasa”!
Terus ada lagi, kalo di Indonesia umumnya orang jalan kaki ditempat panas selalu pake payung, kalo mereka enggak! Jadi meskipun panasnya luar biasa, mereka tetep saja berjalan dengan santainya dibawah terik matahari yang menyengat tanpa payung, nggak peduli mereka itu laki2, perempuan atau anak2 sekalipun. Begitu juga kalo hujan, mereka juga cuek, kalo hujannya nggak kelewat deres tetep aja mereka berjalan lenggang kangkung sampe basah kuyup seakan2 tidak merasakannya!
Yang sangat menjijikkan adalah sering ditemuinya laki-laki yang buang air kecil sembarangan, ditempat umum yang ramai, cuek saja, tetapi keliatannya bagi mereka hal itu adalah hal lumrah. Bukan cuma di Bonny, di Port Harcourt bahkan di Lagos-pun sering ditemui pemandangan seperti itu.
Ada lagi yang perlu diketahui bagi yang berniat untuk mengunjungi Nigeria (kalo ngga ada urusan bisnis sebaiknya ngga usah deh…), yaitu: Jangan sekali2 mengambil foto ditempat umum, baik mengambil gambar gedung misalnya, apalagi memotret orang, baik sengaja maupun tidak! Ini pernah saya alami dan nyaris merupakan malapetaka.
Waktu itu saya sering bepergian ke Port Harcourt, kota terdekat dari Bonny Island, waktu itu kami para expat masih diperbolehkan untuk bepergian kesana (meski harus selalu dikawal oleh mopol/brimob, sekarang tidak boleh lagi karena maraknya kasus penculikan orang expat).
Seperti biasa, kalo kemana2 biasanya saya membawa kamera, apalagi ini dinegeri orang, jadi ingin motret ini motret itu sekedar untuk kenang2an pikir saya. Tapi pas lagi asik mengarahkan kamera untuk megambil gambar yang menurut saya menarik, tiba2 saya didatangi beberapa orang dengan tampang sangar, sambil marah mereka membentak : "What are you doing here?", "Who are you, why you snap in this area?", "Give me your camera!" Kira2 begitulah omongan mereka.
Wah... panik juga saya! Untung waktu itu dikawal polisi, akhirnya polisi itulah yang menghadapi, menjelaskan dan memintakan maaf kepada mereka, wah rame! Mereka otot2an pake bahasa yang tidak saya mengerti mengerti, lama pula, wah kaco juga nih! Akhirnya orang2 tadi mengalah, tapi ternyata bukan mengalah begitu saja karena ujung2nya saya harus mengeluarkan uang sebesar 2.000 Naira (sekitar 140ribu rupiah) sebagai tanda permintaan maaf dan damai! Fuihhh...!!!
Terus terang sampai sekarang saya nggak tau alasan mereka kenapa orang asing nggak boleh motret ditempat umum!
Nah, kota Port Harcourt kalo di Indonesia kira2 hampir sebesar kota Semarang, lalu-lintasnya padat dan amat sangat semrawut, hampir diseluruh kota jalanannya kotor, kualitas aspal maupun betonnya sangat jelek, pengaturan jalur lalu lintasnya juga ruwet dan membingungkan, timbunan sampah tersebar dimana-mana dan banyak lokasi yang bau sampahnya sangat menyengat, udaranya panas berdebu, kalo hujan becek dimana-mana, pedagang kaki lima tersebar hampir diseluruh penjuru kota tetapi keadaannya semrawut nggak teratur, pedagang asongan buanyaknya minta ampun, ngeliatnya ngeri sendiri karena mereka sangat agresif menawarkan barang dagangannya kepada setiap penumpang kendaraan.
Port Harcourt adalah kota ketiga terbesar di Nigeria setelah Abuja dan Lagos.
Meski cukup banyak gedung bertingkat tetapi kondisinya tak lebih baik dari Bonny town, hanya Port Harcourt ini lebih luas. Bangunan gedung2 disepanjang jalan utama rata2 desainnya jelek dan norak, bahkan gedung baru-pun ngga ada yang keliatan menarik, sedangkan bangunan2 yang lama kondisinya rata-rata sangat kotor.
Hotel paling bagus yang ada di Port Harcourt levelnya cuma sampai bintang tiga, tetapi meskipun bintang tiga ternyata kualitas, baik bangunan, makanan maupun pelayanannya jauh dibawah hotel bintang tiga yang ada di Indonesia!
Satu hal yang sangat umum di Nigeria, adalah kebiasaan mereka yang tanpa malu-malu suka minta uang atau apapun kepada orang asing yang ditemui.
Tetapi ini ada kebiasaan yang bagus dari orang Nigeria dan patut ditiru oleh kita, yaitu masalah berkendara di jalanan. Ini bukan masalah mereka lebih disiplin daripada orang kita dalam hal berlalu-lintas, tetapi lebih dari sikap mereka yang sangat toleran terhadap pengendara lainnya.
Contoh: Di Indonesia (apalagi di Jakarta), kalo anda memotong jalur orang dengan kasar (hampir menyerempet misalnya), bisa jadi hal ini akan jadi urusan serius, bahkan mungkin bisa berantem, akan tetapi disini tidak, umumnya mereka hanya mengembangkan kedua tangannya sambil mengucapkan "Why…???!!!" sambil melotot, tapi ya udah gitu doang…
Bahkan beberapa kali pernah saya melihat mobil yang mengalami serempetan sehingga salah satu mobil penyok, tapi mereka hanya otot2an sebentar sesudah itu ya sudah, mereka sama2 pergi tanpa memperpanjang urusan. Makanya jangan heran kalo di Nigeria anda akan sering melihat mobil yang masih baru, atau mobil yang catnya masih kinclong2 tapi sudah penyok disana-sini, nggak peduli itu mobil Mercy, BMW atau mobil2 merek bagus lainnya.
Catatan: Merk mobil yang banyak beredar di Nigeria adalah mobil2 keluaran Eropa, bukan Jepang, ini dikarenakan Eropa lebih dekat dari Nigeria sehingga mungkin harga mobil Eropa lebih murah daripada harga mobil dari Jepang.
Pernah juga saya melihat ada tabrakan motor dimana sampai kedua2nya terpelanting dan motor mereka juga rusak, tapi lagi2 mereka sama sekali nggak berantem, cuma ngomong2 sebentar, itupun nggak sambil marah2, seterusnya mereka malah cuma sibuk ngurusin motor masing2, habis itu mereka trus pada ngeloyor sendiri-sendiri! Pak polisi yang menangani kejadian itupun juga nggak repot minta surat ini itu ke mereka, ya udah bubar begitu saja.
Berbeda dengan di Indonesia kan? Kadang2 hanya karena srempetan kecil saja seringkali orang kita lebih senang membuang2 waktu dan energi untuk otot2an dan ditonton orang banyak ditempat umum!
Namun demikian menurut pengalaman saya, secara umum karakter orang Nigeria bisa disimpulkan sebagai berikut : Keras, kasar, ngga ada sopan santun, ngga mengenal basa basi, ngga punya malu, pemalas tapi yang diomongin duit mulu, tukang bohong, pembual, sombong bagi yang beduit, nggak menepati janji, licik, sering menipu, bahkan mencuri dan tindakan kriminal lainnya. Pejabat pemerintah lokal, imigrasi dan pejabat bea cukai kerjanya sering memeras… Maaf, inilah yang saya amati selama sekian tahun hidup dan bergaul ditengah-tengah mereka!
Tentu saja tidak semuanya seperti itu, masih ada beberapa gelintir yang baik, beda dengan yang saya gambarkan diatas, namun itu sangat langka!. Sekali lagi, ini secara umum.
Nah untuk episode ke 2 perjalanan ke Nigeria ini saya akhiri disini dulu, insya allah pada bagian ke 3 atau bagian terakhir, saya akan berbagi cerita tentang masalah pekerjaan saya dan bagaimana orang2 Nigeria bekerja diproyek ini termasuk situasi keamanan diwilayah Bonny Island dan sekitarnya yang semakin hari semakin rawan terutama dengan maraknya kasus2 penculikan terhadap tenaga expat.
Bagi anda yang ingin mengetahui cerita Perjalanan ke Nigeria bagian 1 silahkan klik disini.